Baresan Olot Tatar Sunda dan Duta Sawala menghadap Gubernur Jawa Barat bertujuan memberikan masukan berupa “Uga dan Ketentuan Adat” yang berkaitan tanda-tanda gejala dan fenomena bencana alam yang akhir-akhir ini terjadi di berbagai belahan Bumi Nusantara. Baresan Olot Tatar Sunda yang dalam hal ini merupakan Dewan Kasepuhan Masyarakat Adat Tatar Sunda merasa perlu untuk memberikan masukan, pandangan dan “warning” atau “peringatan berdasarkan uga/amanat leluhur Sunda” mengenai berbagai kemungkinan fenomena alam berikutnya yang kemungkinan akan terjadi dan bagaimana upaya mengatasinya terhadap fenomena alam yang sudah, sedang dan akan terjadi dalam perspektif “budaya kosmologi adat”. Hal ini perlu diugkapkan dan dijelaskan kepada Gubernur Jawa Barat sebagai pemegang kebijakan penuh terhadap berbagai langkah-langkah strategis dan preventif yang harus dilakukan sebagai pimpinan daerah di Provinsi Jawa Barat, sehubungan dengan wilayah Jawa Barat khususnya, dan umumnya Jawa Barat dan Banten sebagai kawasan yang memiliki gunung dan pegunungan yang berpotensi terhadap gempa vulkanik serta dikelilingi lautan yang berpotensi terhadap munculnya gempa tektonik. Selian itu juga berkaitan dengan kerusakan alam dan lingkungan di Tatar Sunda yang dirasa sangat mengkhawatirkan merupakan potensi bencana alam lainnya baik longsor dan sebagainya yang perlu diwaspadai.
Bagi Masyarakat Adat Tatar Sunda yang dalam kosmologi kehidupannya sangat terikat kuat antara masyarakat, lingkungan dan budayanya, maka mereka lebih mengenal akan berbagai kemungkinan perubahan alam dan lingkungan sejak dini, disamping adanya “uga-uga atau amanat-amanat leluhur mereka” yang sejak awal telah memberikan “peringatan” baik berupa simbol, ungkapan kiasan dan peribasa atau pernyataan lugas akan hal-hal apa saja yang akan terjadi. Tentunya dilandasi dengan kesadaran bersama bahwa itu semua bukan bermaksud untuk “mendahului” takdir dan rencana Tuhan, tetapi setidaknya sebagai manusia/masyarakat yang berpegang teguh pada tatanan tradisi dan amanat leluhur serta ajaran-ajaran leluhur yang selalu dekat dengan alam tentunya mereka (para Baresan Olot Tatar Sunda) setidaknya memiliki kemampuan “membaca dinamika alam” dan tanda-tanda perubahan alam yang akan terjadi untuk kemudian secara bersama-sama antara masyarakat dan pemerintahan setempat berusaha mengantisipasi dan menanggulanginya.
Pertemuan antara Baresan Olot Tatar Sunda, Duta Sawala dan Gubernur Jawa Barat kali ini tentunya lebih memfokuskan pada kepedulian Masyarakat Adat dalam memberikan masukan kepada Pemerintah Jawa Barat terhadap upaya yang perlu diantisipasi dan dilakukan oleh pihak pemerintah demi keselamatan masyarakat Jawa Barat khususnya dan Jawa Barat dan Banten pada umumnya dari fenomena alam berupa berbagai bencana dan kemungkinan potensi bencana alam akhir-akhir ini dan di masa datang.
Bandung, 23 November 2010
Duta Sawala (Sekretariat Jenderal Dewan Kasepuhan Masyarakat Adat Tatar Sunda)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar